Miris, Angka Kematian Ibu dan Bayi di Bandung Masih Tinggi

BANDUNG – Pemkot Bandung terus berusaha menekan angka kematian ibu dan bayi di Kota Bandung. Samapai saat ini, angka kematiannya tercatat masih tinggi. Beberapa program sudah disiapkan terutama program untuk pascamelahirkan.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Bandung Ahyani Raksanagara menyebutkan, karakteristik kematian bayi paling banyak terjadi pada saat bayi berusia 0-6 hari, yaitu berjumlah 38 orang. Untuk ibu meninggal, sebanyak 14 orang terjadi pada saat nifas. Sekitar 42,9% penyebab kematiannya akibat pendarahan.

Ditambahkan Ahyani, ada beberapa faktor penyebab kematian Ibu dan bayi. Di antaranya, usia ibu terlalu muda, tidak ikut KB, masalah gizi, dan juga dilihat dari faktor sosial. Seperti pekerjaan suami, pendidikan ibu dan suami, dan masalah pembiayaan.

“Penyelesaian masalah kematian ibu dan anak ini tidak bisa diselesaikan oleh satu sektor saja, tapi harus diselesaikan berbagai sektor sesuai fungsinya,” kata dia, Selasa (19/1/2021).

Diungkapkan, Data Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bandung, pada 2019 angka kematian bayi berjumlah 114 kasus. Kemudian turun menjadi 82 kasus pada 2020. Sedangkan angka kematian ibu, pada 2019 berjumlah 29 kasus dan di tahun 2020 turun menjadi 28 kasus.

Salah satu upaya pencegahan kematian adalah mengikuti program Keluarga Berencana (KB) dan Keluarga Berencana Pasca Persalinan (KBPP). Menurutnya, KB sebagai upaya mengatur kelahiran anak, jarak, dan usia ideal melahirkan. Adapun KBPP bertujuan mengatur jarak kelahiran/kehamilan dan menghindari kehamilan yang tidak diinginkan.

Sekretaris Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Nina Rachman menyebut, untuk menekan angka kematian supaya lebih kecil yaitu dengan cara mencegah sejak dini kehamilan yang berisiko.

“Bisa dilihat dari siklus usia subur wanita. Untuk itu, kita membuat kader-kader remaja untuk mengingatkan temannya bagaimana mereka menjadi remaja berencana, yang kita sebut sebagai GenRe,” terangnya.

Program GenRe (Generasi Berencana), bertujuan menyiapkan kehidupan berkeluarga bagi remaja melalui pemahaman tentang Pendewasaan Usia Perkawinan. Dengan begitu, mereka mampu melangsungkan jenjang pendidikan secara terencana, berkarir dalam pekerjaan secara terencana, serta menikah dengan penuh perencanaan sesuai siklus kesehatan reproduksi.

“Anak-anak muda dimatangkan, bagaimana mereka merencanakan. Bagaimana para remaja mengajak teman sebaya untuk menunda perkawinan dini. Termasuk bagaimana mereka menyiapkan diri untuk menghadapi usia pernikahan,” kata Nina.(***)

Leave a Reply

Your email address will not be published.