Rasisme, Akar Perpecahan Semua Bangsa

Dalam sebulan terakhir ini, kasus rasis begitu marak di negara ini. Ramai kasus ini bermula dari dunia maya, di mana pemakai media social (medsos) menyerang tokoh asal Papua, Natalius Pigai. Pigai, yang dikenal suka mengkritik pemerintahan Jokowi dianggap orang yang harus ‘dilawan”. Sayangnya, mereka terlalu berlebih ‘melawan’ dan berujung pada rasisme.

Beberapa orang dari mereka, di antaranya Ambroncius Nababan, salah satu politikus Partai Hanura. Selain itu, ada pula Abu Janda, juga menyerang Pigai dengan kata-kata tidak elok, cenderung rasis. Pigai, anggota Komisi Hak Asasi Manusia (Komnas Ham) periode 2012-2017 asal Papua ini juga mendapat serangan berbau rasis dari Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara (USU), Profesor Yusuf Leonard Henuk.

Sungguh sangat disesalkan, kenapa rasisme cukup meresahkan dalam kehidupan bernegara saat ini. Lebih-lebih pada mereka yang cenderung beroposisi pada pemerintah, selalu memberikan kritik pada pemerintah Jokowi. Seakan-akan, mereka adalah musuh yang harus dilenyapkan, dan sah pula untuk dilawan habis-habisan, tanpa memandang aturan dan etika.

Indonesia adalah negara yang berdasarkan Pancasila, dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika atau berbeda-beda tetapi satu juga. Persoalan perbedaan agama, ras, dan suku agama adalah sebuah anugerah besar bagi negara ini. Perbedaan bukanlah sebuah kekurangan, namun kelebihan dari negeri Indonesia. Jumlah warga negara yang besar dengan aneka ragam suku banga sudah disadari betul oleh para founding fathers kita. Dari pemikiran-pemikiran agar tidak pecah belah, maka NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) berpegang pada Bhinneka Tunggal Ika, agar tetap ada kesetaraan dan persamaan sesama rakyat Indonesia, yang semuanya lahir di bumi pertiwi.

CLR James menulis dalam buku berjudul Modern Politic, mengungkapkan bahwa konsep pembagian masyarakat berdasarkan ras  terjadi sejak ada perdagangan budak. Pandangan merendahkan dan mencemoh manusia lain tersebut berkembang  pesat, bersamaan dengan perbudakan dimulai saat kelas yang berkuasa melihat pentingnya mendapat tenaga kerja dengan upah yang murah dan loyal. Jadi, rasisme bukan sekedar sentimen anti suatu etnis, melainkan pemahaman atau keyakinan bahwa ras suatu bangsa lebih unggul dari pada bangsa lain. 

Penjajahan yang terjadi, dari Eropa ke berbagai benua di Asia, Amerika, dan Afrika merupakan pemahaman rasis, yang melandasi bangsa-bangsa yang kuat menaklukkan bangsa lain  dengan kekuatan perang. Selanjutnya, bangsa yang kalah perang dianggap inferior. Sedangkan bangsa yang menang menganggap dirinya sebagai superior. Bangsa yang menang, berhak melakukan apa saja terhadap bangsa yang kalah perang, termasuk perbudakan dan perampasan tanah. Bahkan, ada kejadian yang membuat semua menyesalkan, seperti pemusnahan ras atau etnis sebuah bangsa.

Membicarakan rasisme, tentu harus memulai dasar. Beberapa ahli memberikan pengertian yang berbeda soal rasis. Rasisme adalah pandangan terhadap arti ideologi ataupun paham yang dianut masyarakat yang menolak atau tidak suka pada suatu golongan masyarakat tertentu yang biasanya berdasarkan rasnya, derajat, dan lain sebagainya.

Adapun definisi rasisme menurut para ahli, diantaranya Alo Liliweri menyatakan, pengertian rasisme adalah suatu ideologi yang mendasarkan diri pada diskriminasi terhadap seseorang atau sekelompok orang, karena ras mereka bahkan ini menjadi doktrin politis. Lain lagi dengan definisi yang dibuat Human Rights and Equal Opportunity Commission, yang menyatakan rasisme adalah suatu ideologi yang menyumbangkan pernyataan mitos perihal kelompok ras dan etnis lainnya yang merendahkan kelompok atau komunitas tersebut.

Sedangkan Oliver C. Cox, menyatakan rasisme adalah peristiwa, situasi yang menilai berbagai tindakan, dan nilai dalam suatu kelompok berdasar perspektif kulturalnya yang memandang semua nilai sosial masyarakat lain di luar diri mereka itu salah dan tidak dapat diterima.

Adapun penyebab rasisme bisa beragam. Di antaranya, pertama adalah sosialisasi dalam keluarga. Tinjauan psikologis, apa yang diajarkan orangtua pada anaknya, akan melekat dalam diri anaknya, entah itu pelajaran baik atau sebaliknya, pelajaran yang buruk. Orang tua menjadi salah satu faktor penyebab rasisme muncul karena didikannya. Orang tua mengajarkan deskriminasi terhadap golongan tertentu. Inilah awal dari rantai kebencian yang tidak putus, karena doktrin antargenerasi.

Rasisme dalam keluarga muncul karena persepsi yang salah terhadap sebuah kelompok atau ras lain. Seringkali, keterbatasan pengetahuan, sudut pandang yang salah, hingga penilaian dari orang tua terhadap kelompok, suku, komunitas orang lain, menimbulkan persepsi yang berbeda. Penilaian berdasarkan budaya kita, tanpa mengerti, mengenal dan memahami budaya orang lain, menjadikan persepsi negatif yang muncul.

Berikutnya, sejarah mencatat bahwa rasisme lahir karena kebijakan pemerintah. Lihat bagaimana Hitler terhadap Yahudi, pemerintahan aparteheid di Afrika terhadap penduduk asli yang berkulit hitam yang melahirkan kasta dalam bernegara. Indonesia, juga pernah terjebak dalam rasisme masa lampau. Semua itu tidak terlepas dari pengaruh otoriter pemimpin dalam pemerintah. Misalnya, dari Orde Lama dan Orde Baru, bagaimana etnis Tionghoa didiskriminasi dan dibatasi ruang geraknya, dan masih banyak contoh rasisme dalam skala kecil.

Rasisme muncul juga dipengarui kesenjangan ekonomi. Dampak dari kesenjangan ekonomi tersebut memunculkan pesepsi atas minimnya sarana dan prasarana yang diberikan pemerintah karena daerah tersebut tertinggal.

Perilaku rasisme akan menimbulkan akibat negatif. Di antaranya, bagi ras yang menguasai akan membuat ras minoritas, secara perlahan menghilang. Berikutnya, juga akan munculnya persatuan dalam sebuah negara. Skala kecil, adanya rasisme akan membuat Kesehatan jasmani dan rohani seseorang akan terganggu. Bagaimanapun, kesehatan mental bisa dipengaruhi segala hal yang dikatakan oleh seseorang dalam bentuk tindakan rasisme. Setelah semua akibat itu muncul apa yang disebut dengan konflik sosial yang berkepanjangan.

Lahir dari Prasangka

Antropolog Koentjaraningrat membedakan antara ras dan etnik. Ras lebih ditentukan oleh ciri-ciri fisik yang berbeda. Di Indonesia, menurut Koentjaraningrat, ada dua jenis ras, yakni Melanesia dan Negroid. Melanesia berkulit kuning, coklat, sampai kehitaman, dengan rambut lurus. Mereka tinggal di pulau-pulau Indonesia bagian barat dan Sebagian Indonesia Timur. Sedangkan ras Negorid, berciri khas kulit hitam dan berambut keriting, seperti orang Papua dan Timor. Bagi Koentjaraningrat, Orang China bukanlah ras yang membedakan, tetapi secara etnik. Secara fisik tidak cukup berbeda, namun perbedaan yang menonjol adalah budaya mereka, seperti agama, dialek, falsafah hidup, dan lainnya.

Sebelum menuju rasisme, Professor dari Universitas Indonesia (UI), Sarlito Wirawan Sarwono mengingatkan soal prasangka atau prejudice.  Menyitir pandangan Todd D. Nelson dalam bukunya The Nature of Prejudice, Sarlito memaparkan bahwa prasangka merupakan suatu evaluasi negatif seseorang atau kelompok orang terhadap orang atau kelompok lain-lain, semata-mata karena orang atau orang-orang itu merupakan anggota kelompok lain yang berbeda dari kelompoknya sendiri. Menurut Sarlito, prasangka merupakan persepsi yang bias, karena informasi yang salah atau tidak lengkap, serta didasarkan pada sebagian karakteristik kelompok lain, baik nyata maupun hanya khayalan.

Dalam kehidupan, individu selalu akan mengidentifikasikan dan mendefinisikan diri berdasarkan kelompok sosialnya, sehingga timbullah identitas sosial. Memang, untuk sampai pada identitas dan definisi diri itu, tentu ada proses tertentu. Pada proses tersebut, manusia sebagaimana dinyatakan Myers (dalam buku Social Psychology), ada tiga hal yang dilakukan manusia dalam proses tersebut, yaitu kategorisasi, identifikasi, dan membandingkan. Proses membandingkan itu melahirkan stereotype terhadap orang lain atau kelompok lain.

Terbentuknya stereotype tersebut, menurut Feldman (Robert S. Feldman dalam buku Social Psychology), disebabkan oleh kategorisasi sosial yang merupakan upaya individu untuk memahami lingkungan sosialnya.  Kategori sosial mempengaruhi cara pandang terhadap individu lain, dan bisa berujung pada salah persepsi. Persepsi yang salah, stereotype yang keliru secara terus-menerus melahirkan kesimpulan yang tidak benar. Ini sangat fatal dan bila tidak segera diluruskan, membentuk rasisme dalam cakupan lebih luas.

Kita semua tahu, ada dua aspek yang membentuk rasisme. Yaitu, diskriminasi ras dan prasangka ras atau prejudice. Diskriminasi ras mencakup segala bentuk perilaku pembedaan berdasakan ras. Bentuk diskriminasi ras tampak jelas dalam pemisahan (segregasi) tempat tinggal warga ras tertentu di kota-kota besar di dunia Barat maupun Timur. Sedangkan prejudice, merupakan akar dari segala bentuk rasisme. Prasangka adalah pandangan yang buruk terhadap individu atau kelompok manusia lain dengan hanya merujuk kepada ciri-ciri tertentu seperti ras, agama, pekerjaan atau kelas.

Baik diskriminasi maupun prasangka, keduanya saling menguatkan. Prasangka mewujudkan suatu rasionalisasi bagi diskriminasi. Sedangkan diskriminasi acap kali membawa ancaman. Ingat, dalam suasana prasangka dan diskriminasi, tidak ada tempat bagi toleransi dan keterbukaan.

Matikan Akar Rasisme

Paul Spoonley dalam bukunya berjudul Ethnicity and Racism, menyimpulkan bahwa ras adalah sebuah konsep kolonial yang berkembang saat semangat untuk melakukan ekspansi melanda Eropa. Dari penelusurannya mengenai jejak rasisme, ia menemukan sebagai bagian dari ideologi kolonial, rasisme melegitimasi eksploitasi yang dilakukan masyarakat kolonial kulit putih Eropa terhadap ras lain. Spoonley melihat ada benang merah atas kasus yang menimpa warga keturunan Maori di tengah komunitas ras kulit putih di Selandia Baru.

Kesimpulannya, rsisme merupakan ideologi yang berlandaskan pada kepercayaan bahwa ciri-ciri tertentu yang melekat sejak lahir menandakan yang memiliki karakteristik tersebut lebih rendah, sehingga secara otomatis memunculkan didiskriminasi. Di sisi lain, pemahaman akan perbedaan yang kurang, membuat orang lain jadi seenaknya sendiri. Karenanya, begitu banyak praktik rasisme yang dilakukan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.

Apakah kita hanya berhenti sampai di sini, hanya mengutuk pada rasisme saja, tanpa Tindakan nyata? Perlakukan rasisme, baik berupa ucapan, tulisan, dan apalagi sudah pada Tindakan nyata, harus digulung habis di bumi pertiwi ini. Tidak di dunia maya, apalagi di dunia nyata, tidak ada tempat bagi rasisme.  Pancasila dan UUD 45 menjadi alasannya. Tidak ada pasal demi pasal yang mengizinkan rasisme lahir dan berkembang di negeri ini.

Semua berkewajiban menanamkan pada generasi penerus, bahwa rasisme itu keji. Pekerjaan terbesar dari semua yang merasa menjadi warga negara adalah menyatukan keyakinan, bahwa Indonesia tidak memberi tempat bagi rasisme dan pendukungnya. Pelakunya harus disadarkan, dan kalau perlu dihukum yang berat. Bhinneka Tunggal Ika adalah tameng dari rasisme. Berbeda-beda tetapi tetap satu, adalah alasan kitab ber-Indonesia Raya.

Rasisme yang berangkat dari lingkungan keluarga, menjadi pekerjaan rumah (PR) bersama. Pemahaman rasisme harus dikikis habis. Sebuah keluarga harus menyadari betul, untuk tidak lagi mengajarkan rasisme pada keturunannya. Apalagi agama apapun, tidak ada yang mendukung rasisme. Kesetaraan bernegara, kesamaan di muka hukum, tak adanya perbedaan dalam menjalani kehidupan bernegara juga wajib ditampakkan oleh pemerintah. Penguasa tidak boleh hanya lips service mendukung ‘upaya menangkis rasisme” tetapi membiarkan rasisme bebas dalam kehidupan bernegara. Jika itu tetap dilakukan, jangan berharap akar rasisme bisa dicabut dari bumi tercinta ini. Semoga.(****)

Heru Setiyaka, bekerja pada perusahaan konsultan di Jakarta, telah menyelesaikan program Magister Psikologi di Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta.

Leave a Reply

Your email address will not be published.