Sektor Pariwisata Bakal Kena Dampak karena Waktu Cuti Sempit

JAKARTA – Sektor pariwisata diperkirakan akan kembali dilanda permasalahan. Kali ini, masalah tenaga kerja yang muncul lagi, pada periode low season, selama Ramadan hingga Idulfitri.

Apalagi pemerintah hanya memberikan waktu cuti yang cukup sempit pada lebaran tahun 2021 ini. Hal tersebut dikhawatirkan semakin menekan okupansi sektor perhotelan.

Didien Djunaedi, Ketua Umum Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) mengatakan, dampak low season pada periode Ramadan hingga Lebaran tahun ini diramalkan semakin banyak jumlah tenaga kerja sektor pariwisata, terutama hotel dan restoran, yang bakal dirumahkan.

“Sebagai dampak dari periode low season ini terhadap tenaga kerja sektor pariwisata, naga-naganya perusahaan akan melakukan lay off karyawan,” ungkap Didien, Rabu (10/3/2021).

Saat ini saja, jumlah tenaga kerja yang sudah terkena dampak pandemi, baik dirumahkan maupun dikenakan pemutusan hubungan kerja (PHK), lebih dari 60 persen dari total pekerja. Dampak paling signifikan dialami pekerja di sektor hotel dan restoran. Meski begitu, Didien masih melihat adanya potensi pemasukan ke sektor pariwisata. Terutama, destinasi-destinasi yang mudah diakses seperti beberapa daerah di Pulau Jawa, termasuk Yogyakarta.

“Paling tidak, sebanyak 50 persen dari total wisatawan domestik yang berlibur sebagai pemudik, pasti akan mudik walaupun cuti hanya 2 hari. Selain itu, sektor pariwisata juga berharap dari orang-orang yang telah divaksin, meskipun harapannya kecil,” paparnya.

Dia meyakini, tahun 2021 ini pemerintah akan lebih getol menahan laju wisatawan pada hari libur setelah mengalami banyak kebobolan pada tahun lalu, di mana acap kali jumlah kasus positif melonjak setelah masa liburan. Didien mengakui, industri pariwisata tidak punya banyak pilihan, selain menanti mulai dirasakannya efek dari program vaksinasi di Tanah Air. Setidaknya, sampai semester pertama tahun 2022 mendatang. (***)

Leave a Reply

Your email address will not be published.