Didukung PT LAJ, Orang Rimba Ikut Kembalikan Kejayaan Jernang di Jambi

JAMBI – Siapa yang pernah mendengar Jernang? Bagi yang tinggal di dekat hutan, kata itu tidaklah asing. Tanaman yang dalam bahasa latin dinamai Dhaemorhop draco merupakan tanaman merambat yang memiliki peran sangat besar bagi masyarakat adat Orang Rimba. Jernang yang tumbuh di dalam hutan sempat menjadi primadona bagi seluruh Orang Rimba (OR) di Sumatera.

Sayangnya, kini ketersediaan Jernang di alam dari tahun ke tahun semakin berkurang. Ketika sedang mahal, harga Jernang bisa mencapai Rp 7 juta – Rp 9 juta per kilogramnya. Itupun di level pengepul lokal. Saat ini, harga Jernang Rp 3 juta per kilogramnya. Karena pandemi Covid-19 mempengaruhi harga Jernang karena permintaan pasar menurun.

Masyarakat yang bersemangat membudidayakan Jernang adalah Orang Rimba. Salah satunya, Natai anak dari Temenggung Buyung, tetua adat Orang Rimba di Tebo, Jambi. Ia bersemangat menyiapkan biji Jernang yang akan dijadikan bibit. Pemuda yang kini berusia 20 tahun ini menyiapkan bibit Jernang dari hasil cangkok untuk ditanam di lahan milik keluarganya.

“Ini adalah ilmu yang baru kami dapatkan setelah berkunjung dan belajar dari teman-teman yang sukses bertanam Jernang di Taman Nasional Bukit Dua Belas,” ungkap Natai, beberapa waktu lalu.

Tidak hanya menyiapkan bibit, Natai dan beberapa pemuda orang rimba juga mengetahui cara merawat tanaman Jernang. “Harapan saya dapat segera menanam Jernang, karena kalau ilmu kami ini tidak diterapkan maka akan hilang,” tegas Natai.

Guna melestarikan Jernang, Natai dan orang tuanya telah menanam 100 batang. Upaya ini juga diikuti oleh sekitar enam keluarga orang rimba lainnya. Hingga kini, area pertanaman Jernang mencapai enam hektar yang berlokasi di Wildlife Conservation Area (WCA) yang berbatasan dengan kawasan Taman Nasional Bukit Tiga Puluh.

WCA Manager Kurniawan menerangkan, saat ini telah ada tujuh kepala keluarga OR yang didampingi dalam upaya melestarikan dan budidaya Jernang. Kunjungan belajar yang difasilitasi oleh PT Lestari Asri Jaya (LAJ) tempat Kurniawan bekerja memiliki empat tujuan utama. Pertama, mengajarkan teknik pembuatan bibit Jernang dengan cara mencangkok dan mencabut tunas muda yang tumbuh di sekitar batang tua Jernang. Kedua, tentang pemilihan biji yang baik untuk dijadikan bibit. Ketiga, tentang perawatan tanaman Jernang. Ke empat, upaya mengajak Orang Rimba menanam Jernang, serta penambahan motivasi untuk pengembangan Jernang lebih luas lagi.

“Kami banyak melibatkan anak-anak muda dari masyarakat adat OR dalam pelestarian dan budidaya Jernang ini. Mereka diharapkan akan menjadi kader, memotivasi dan menularkan ilmu yang sudah dimiliki kepada orang rimba di kelompoknya masing-masing,” kata Kurniawan.

WCA adalah kawasan yang didedikasikan oleh perusahaan karet alam berkelanjutan PT Royal Lestari Utama (RLU), melalui anak usaha PT LAJ, sebagai area konservasi yang berada di selatan Taman Nasional Bukit Tiga Puluh. Di dalam area WCA ini, Natai dan komunitas OR tinggal dan melestarikan Jernang. Selain ada hutan yang perlu dijaga, di area seluas ±9.700 ha ini juga terdapat berbagai satwa yang dilindungi seperti Gajah dan Harimau Sumatera.

Direktur Corporate Affairs dan Sustainability RLU Yasmine Sagita menerangkan, perusahaan mendorong OR untuk membudidayakan Jernang. Anak usaha RLU, PT LAJ,  melakukan pendampingan, pemberian fasilitas budidaya dan transfer teknologi. Diharapkan komunitas OR tidak hanya dapat belajar tentang bagaimana bertanam Jernang tetapi juga mengetahui cara mengatasi kendala, misalnya pengendalian hama dan penyakit, teknik pemanenan hingga penjualan buah Jernang.

“Baru-baru ini kami memfasilitasi Orang Rimba untuk kunjungan belajar kepada warga telah sukses membudidayakan Jernang di Taman Nasional Bukit Dua Belas,” papar Yasmine.

Setahun yang lalu, PT LAJ juga memberikan pelatihan tentang Jernang kepada Orang Rimba. Dari pelatihan ini Orang Rimba menjadi tahu bagaimana cara membuat biji Jernang menjadi cepat berkecambah. Dari biasanya selama enam bulan, sekarang cukup 20 – 22 hari saja. Kendala yang dihadapi Orang Rimba di WCA dalam budidaya Jernang adalah minimnya pengetahuan tentang perawatan.

Dari kunjungan belajar tersebut, Orang Rimba mendapatkan pengetahuan tentang perawatan tanaman Jernang. Seperti pentingnya ada ruang cahaya dan tidak harus intensif dibersihkan. Selain itu, cara membuat bibit Jernang juga didapatkan, yaitu dengan mengambil bibit dari tunas baru.

PT LAJ juga telah memberikan 300 batang Jernang siap tanam yang ditanam di dua lokasi Temenggung Orang Rimba. Sebanyak 11 kilogram buah Jernang telah dibibitkan di Pembibitan Tanaman Kehidupan Orang Rimba. Bibit ini nantinya akan ditanam di lahan OR di WCA.

Tidak hanya melestarikan dan membudidayakan Jernang, guna meningkatkan sumber penghasilan kelompok OR, perusahaan juga melakukan pengembangan kebun dan pembibitan Agroforestry untuk OR dan pendampingan kepada kelompok wanita untuk membuat kerajinan tangan.

Baru-baru ini, PT LAJ juga membangun dan mengoperasikan Balai Pusat Pelayanan Orang Rimba (OR). Balai Pusat Pelayanan OR yang berlokasi di area Kelompok Temenggung Hasan ini dibangun atas inisiatif OR sendiri. Nantinya balai serupa juga akan dibangun di area kelompok orang rimba lainnya, yaitu Kelompok Temenggung Buyung dan Bujang Kabut.

Dengan beroperasinya balai ini kelompok OR akan mendapatkan berbagai manfaat pelayanan terhadap hak-hak dasar secara lebih mudah dan terorganisir. Keberadaan Balai Pusat Pelayanan membuat kegiatan pendidikan anak-anak OR menjadi lebih intensif dibandingkan sebelumnya. Balai Pusat Pelayanan juga menjadi tempat transit dan beristirahat bagi OR ketika sedang keluar dari hutan seperti untuk berbelanja dan keperluan lainnya. (***)

Leave a Reply

Your email address will not be published.