Mahasiswa FMIPA UNY Eksplorasi Etnomatematika Gamelan Jawa sebagai Media Belajar Matematika

YOGYAKARTA – Matematika merupakan mata pelajaran wajib yang harus termuat, mulai jenjang pendidikan dasar hingga pendidikan menengah. Harapannya, dengan mempelajari matematik akan melatih siswa bisa berpikir realistik, kritis, praktis, sistematis, dan kreatif.

Namun, tidak sedikit siswa yang menganggap matematika merupakan salah satu pembelajaran yang sulit, abstrak, membosankan, menakutkan, dan susah dipahami. Hal tersebut terjadi disebabkan kurang tepatnya cara penyampaian pembelajaran, sehingga banyak siswa yang merasa kesulitan dalam belajar matematika.

Situasi tersebut bisa berdampak menurunkan prestasi siswa dalam pelajaran matematika dan memberikan efek negatif bagi pelajaran matematika itu sendiri. Salah satu solusi yang bisa dilakukan untuk memudahkan belajar matematika adalah melalui perspektif etnomatematika melalui gamelan Jawa. Etnomatematika merupakan pendekatan yang bisa digunakan untuk menjelaskan realitas hubungan antara budaya lingkungan dan matematika sebagai rumpun ilmu pengetahuan. Dengan menggunakan pendekatan pembelajaran etnomatematika di sekolah, siswa tidak hanya bisa menjadikan gamelan Jawa sebagai salah satu media dalam pembelajaran matematika. Tetapi juga bisa melestarikan gamelan Jawa itu sendiri.

Selain itu, pembelajaran matematika yang dipelajari melalui kebudayaan lokal membuat matematika lebih menarik dan mudah dipelajari. Alasan tersebut yang menjadi perhatian mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan (FMIPA) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Galang Sumantri dari Prodi Matematika dan Anisa Fatma Kurnia Sari dari Prodi Pendidikan Matematika. Keduanya mengeksplorasi etnomatematika pada gamelan Jawa sebagai media belajar matematika.

Menurut Galang Sumantri, alat musik gamelan Jawa bisa dijadikan sebagai media belajar matematika khususnya geometri.

“Dari hasil observasi dan studi literatur diperoleh hasil bahwa terdapat unsur-unsur matematika pada alat musik gamelan Jawa,” ungkap Galang, Selasa (05/04/2022).

Ditambahkan Galang, unsur-unsur matematika tersebut berupa geometri bidang maupun geometri ruang. Di antaranya, persegi, persegi panjang, lingkaran, trapesium, bola, tabung, dan kerucut terpancung.

Pada alat musik gamelan Jawa terdapat bentuk-bentuk yang erat kaitannya dengan bangun datar dan bangun ruang pada matematika. Karena itu, pada penelitian ini menyuguhkan alternatif media belajar matematika terkait dengan bahasan geometri maupun hal-hal yang relevan untuk dipelajari terkait matematika.

Harapannya, penelitian ini bermanfaat bagi pendidik serta peserta didik, karena bisa membantu pemahaman dan memudahkan pendidik dalam pembelajaran matematika terkait bidang geometri. 

Anisa Fatma Kurnia Sari meneruskan, alat musik dalam gamelan Jawa yang mereka pelajari unsur matematikanya adalah bonang, gambang, demung, gender, bendha, kendang, rebab, dan suling.

“Bonang adalah gamelan pukul yang memiliki ciri-ciri berbentuk cembung, mencekung di bagian tengah dan terdapat setengah bola di atasnya,” imbuh Anisa.

Bonang terdiri dari dua jenis, yaitu bonang barung yang berfungsi untuk membuka atau memulai penyajian pada gending-gending tertentu serta menghias lagu, dan bonang penerus sebagai penghias lagu. Unsur matematika pada bonang ini adalah bangun datar (persegi panjang, persegi, lingkaran), bola, dan kekongruenan.

Sedangkan demung adalah gamelan pukul yang memiliki ciri-ciri berbentuk kumpulan trapesium yang berjumlah 6 buah dengan ukuran mengecil mengikuti tangga nada. Demung berfungsi sebagai pengisi melodi utama atau sebagai penegas yang menunjukkan lagu yang sesungguhnya. Unsur matematika yang terdapat pada gamelan demung ini adalah trapesium dan kesebangunan. Begitu pula yang terdapat pada alat musik gambang dan gender. Sementara pemukul gender yang dinamai bendha memiliki unsur matematika tabung dan lingkaran.

Kendang merupakan gamelan yang dipukul menggunakan kedua tangan pada kedua sisinya yang berbentuk gabungan dua kerucut terpancung. Kendang di setiap sisinya berbentuk lingkaran dengan ukuran berbeda yang ditutupi dengan membran kulit. Dalam musik gamelan, kendang adalah “pamurba irama”, yang berfungsi sebagai pengatur irama dan tempo gending yang dimainkan. Jadi gamelan berfungsi untuk memulai, memperlambat, mempercepat, dan memberi tanda akan berakhirnya gending.

Unsur matematika yang terdapat pada kendang adalah kerucut terpancung, tabung, dan lingkaran. Rebab adalah gamelan gesek dengan ciri-ciri berbentuk seperti gitar yang badannya menyerupai segitiga dengan kepala runcing dan memiliki dua gagang tangan yang panjang. Rebab memiliki dua atau tiga utas dawai yang terbuat dari logam/tembaga. Dalam gamelan jawa, fungsi rebab tidak hanya sebagai pelengkap untuk mengiringi nyanyian sinden, tetapi juga berfungsi untuk menuntun lagu, terutama ketika tabuhannya lirih. Unsur matematika yang terdapat pada gamelan rebab adalah sudut, segitiga, dan garis tegak lurus.

Alat musik gamelan Jawa yang terakhir diteliti adalah suling, yaitu gamelan tiup yang terbuat dari bambu dengan ciri-ciri berbentuk tabung tanpa tutup dan badannya berlubang sesuai tangga nada. Suling terdiri dari dua jenis, yaitu suling slendro dan suling pelog. Perbedaannya adalah pada letak dan jumlah lubangnya, suling slendro mempunyai empat lubang sedangkan suling pelog mempunyai lima lubang. Biasanya suling memainkan melodi tersendiri yang berfungsi sebagai pangrengga atau penghias lagu. Unsur matematika yang terdapat pada suling adalah tabung.

Warga Kalasan Sleman ini menyimpulkan, ada keterkaitan antara alat musik gamelan jawa dengan pembelajaran matematika. Gamelan Jawa bisa dilestarikan melalui pembelajaran matematika menggunakan perspektif etnomatematika yang dapat dijadikan sebagai media belajar matematika.

Dari bentuk-bentuk gamelan Jawa didapatkan unsur-unsur matematika berupa geometri. Di antaranya, persegi, persegi panjang, lingkaran, bola, trapesium, tabung, dan kerucut terpancung.(****)

Leave a Reply

Your email address will not be published.