JPW Prihatin dan Dorong Semua Pihak Atasi Fenomena Aksi Klithih

YOGYAKARTA – Boleh jadi warga Yogyakarta, khususnya orangtua yang memiliki anak di bawah umur atau usia remaja harus dibuat ekstra was-was. Hal ini tidak lain, pasca meninggal dunianya Daffa Adzin Albasith (18), pelajar SMA Muhammadiyah 2 Yogyakarta, beberapa waktu lalu (03/04/2022).

Seperti kita ketahui, Daffa meregang nyawa akibat dihantam gir oleh satu dari lima terduga pelaku. Peristiwa meninggalnya Daffa menunjukkan, seakan tidak habisnya kekerasan jalanan yang didomoninasi pelaku dan korban berusia di bawah umur atau remaja. Kasus serupa sering kali terjadi di kota tercinta ini, Yogyakarta. Masyarakat sangat familiar dengan fenomena yang terjadi, dan menyebutnya sebagai aksi klithih.

“Kasus tewasnya Daffa, menambah daftar panjang kasus kekerasan jalanan. Apapun namanya, tidak begitu penting. Tetapi kasus itu berulang dan berulang dan terjadi di kota pelajar ini. Meskipun proses hukum kerap dijalani para pelaku yang rata-rata usia di bawah umur, semua itu seakan tidak memberikan efek jera bagi para pelaku yang lain, karena kasus kekerasan di jalanan masih sering terjadi.Tidak sedikit korban luka maupun meninggal dunia terus berjatuhan. Pun tidak sedikit pula para terduga pelaku klithih ini telah ditangkap oleh pihak kepolisian,” kata Kadiv Humas Jogja Police Watch (JPW) Baharuddin Kamba di Kota Yogyakarta, Senin (11/04/2022).

Menurut Kamba, kasus kekerasan di jalanan oleh sejumlah oknum pelajar, tentunya bisa mencoreng citra Yogyakarta sebagai kota pelajar, kota budaya, sekaligus kota wisata.

Tepat sepekan, pasca meninggalnya Daffa, jajaran reskrimum dari Polda DIY, Polresta Yogyakarta dan Polres Bantul berhasil menangkap lima terduga pelaku kejahatan jalanan yang terjadi di Jalan Gedungkuning, Yogyakarta. Lokasi kejadian berbatasan antara Kabupaten Bantul dan Kota Yogyakarta.

Tentu saja, JPW mengapresiasi hasil kerja keras dari pihak kepolisian dengan menangkap lima terduga pelaku.

“Kami berharap, ke depan tentunya kasus kekerasan jalanan ini tidak kembali terjadi lagi. Tentunya dengan giat melakukan razia dan patroli rutin di kawasan yang rawan terjadinya tidak kejahatan, peran serta orangtua maupun sekolah, sangatlah diperlukan dan pemerintah daerah baik kabupaten/kota maupun pronpinsi DIY untuk duduk bersama mencari solusi terbaik agar kasus serupa (klithih) tidak terulang Kembali,” ungkap Kamba.

Selain itu, lanjut Kamba, penting sebagai edukasi pada masyarakat, jangan sampai keliru memaknai ‘jaga warga,’ lantas melakukan tindakan anarkis terhadap orang yang dicurigai sebagai pelaku kejahatan atau klithih.

“Mari kita kawal bersama proses hukum terhadap lima terduga pelaku ini hingga vonis di pengadilan nanti,” pungkasnya.(****)

Leave a Reply

Your email address will not be published.