Fokus Genjot Pelaku IKM untuk Ekspor, Kemenperin Gulirkan Program Desa Devisa

JAKARTA – Berbagai strategi dalam meningkatkan daya saing industri kecil dan menengah (IKM) di pasar ekspor terus digalakkan Kementerian Perindustrian (Kemenperin). Hasil pemetaan kemenperin, tantangan yang dihadapai pelaku IKM nasional dalam upaya memperluas pasar ekspor, di antaranya berkaitan dengan informasi, pembiayaan, efisiensi proses produksi, dan distribusi.

“Industri Kecil dan Menengah (IKM) merupakan sektor yang dominan di tanah air. Jumlahnya cukup signifikan, sekitar 4,4 juta unit usaha. Untuk memacu daya saing, maka diperlukan upaya penguatan kualitas dan jejaring, sehingga IKM bisa berperan lebih besar sebagai bagian dari rantai pasok industri besar dan meningkatkan ekspor yang merupakan komponen utama penerimaan devisa negara dalam menunjang perekonomian nasional,” kata Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita, di kantornya, Senin (30/5/2022).

Menperin Agus melanjutkan, memang IKM menjadi sektor dominan dalam hal jumlah karena sebesar 99,7% dari total unit usaha industri di Indonesia. Sayangnya, soal pemasaran produk IKM belum dioptimalkan. Dengan langkah strategis tersebut, harapannya mampu mendorong akselerasi pemulihan ekonomi nasional.

“Mereka perlu mendapat pengetahuan dan kemampuan untuk pengurusan (regulasi) dokumen ekspor. Terkait pembiayaan IKM guna memperluas akses pasarnya, efisiensi dalam biaya distribusi dan logistik produk IKM, sampai kemampuan produktivitas IKM untuk mencapai efisiensi skala ekonomi,” tegasnya.

Saat ini, Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Kemenperin menggelar beragam program untuk meningkatkan kapasitas IKM nasional agar siap menghadapi pasar ekspor. Upaya ini salah satunya dengan memanfaatkan Dana Alokasi Khusus (DAK) untuk pembangunan dan revitalisasi Sentra IKM potensi ekspor.

Selanjutnya, program restrukturisasi mesin dan/atau peralatan melalui potongan harga atas pembelian mesin dan/atau peralatan produksi baru sebesar 25% bagi pembelian mesin produksi impor, dan 40% bagi pembelian mesin produksi buatan dalam negeri.

Program lain yang juga sudah disiapkan adalah penerapan transformasi industri 4.0 bagi Sentra IKM potensi ekspor, pendampingan dan sertifikasi Hazard Analysis Critical Control Points (HACCP) pada sentra-sentra IKM produk pangan potensi ekspor, serta peningkatan pasar ekspor melalui pendampingan digital marketing  dan fasilitasi membership pada marketplace global dan pameran.

”Ditjen IKMA menyambut baik kerja sama dengan Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (Indonesia Eximbank) dalam pengembangan sentra IKM potensi ekspor melalui program pengembangan klaster komoditas ekspor (Program Desa Devisa) dengan berbasis pemberdayaan masyarakat atau komunitas (community development),” kata Direktur Jenderal IKMA Kemenperin, Reni Yanita, saat penandatanganan Nota Kesepahaman dan Peresmian Program Desa Devisa Klaster Gula Semut yang diadakan secara hybrid di Jakarta dan Purbalingga, Senin (30/5/2022).

Pilot project kerja sama Kemenperin dan Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) dimulai dengan pengembangan kapasitas para pelaku usaha di sentra IKM gula palma di Kabupaten Purbalingga dan Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah.

“Indonesia merupakan negara pengekspor utama gula palma di dunia, dengan nilai ekspor produk berbahan dasar nira kelapa/gula aren/gula siwalan mencapai 36,5 ribu ton dengan nilai USD49,3 juta pada 2019, dan meningkat menjadi 39,4 ribu ton dengan nilai USD63,5 juta pada 2020,” jelas Reni.

Reni melanjutkan, kerja sama  Ditjen IKMA dengan LPEI ini meliputi program penyediaan dan pertukaran data serta informasi terkait IKM yang berorientasi ekspor,  sosialisasi dan implementasi dalam hal fasilitasi pembiayaan, penjaminan, dan asuransi, penyediaan jasa konsultasi terhadap IKM berorientasi ekspor. Secara teknis, kerja sama meliputi, pelatihan, bimbingan teknis, promosi, dan pendampingan,  serta kerja sama lainnya.

Seperti diketahui, LPEI merupakan Special Mission Vehicle  Kementerian Keuangan selalu melakukan berbagai sinergi dan kolaborasi dalam menjalankan mandatnya untuk peningkatan ekspor khususnya pada segmen UKM berorientasi ekspor. Selain pembiayaan, LPEI proaktif membentuk ekosistem yang produktif dan menjaga keberlanjutan ekspor segmen UKM dengan berbagai kegiatan jasa konsultasi guna mengembangkan ekspor UKM. Di antaranya, melalui Program Desa Devisa.

“Kami  bersama-sama menetapkan rencana kerja dan program kerja sama atas potensi pembiayaan penjaminan, asuransi, dan jasa konsultasi bagi IKM berorientasi ekspor pada komoditas unggulan lainnya di Indonesia,” tegas Direktur Eksekutif LPEI Rijani Tirtoso.(****)

Leave a Reply

Your email address will not be published.