Prof. Nurfina: Banyak Tanaman Obat Asli Indonesia sebagai Antivirus  

YOGYAKARTA – Konsep hidup sehat masih relevan diterapkan semua orang. Kondisi sehat secara holistik bukan saja kondisi sehat secara fisik, melainkan juga spiritual dan sosial dalam bermasyarakat.

Untuk menciptakan kondisi sehat seperti ini, diperlukan keharmonisan dalam menjaga kesehatan tubuh di mana ada empat faktor utama yang mempengaruhi derajat kesehatan masyarakat. Ke empat faktor tersebut merupakan faktor determinan timbulnya masalah kesehatan. Empat faktor ini terdiri dari faktor perilaku/gaya hidup (life style), faktor lingkungan (sosial, ekonomi, politik, budaya), faktor pelayanan kesehatan (jenis cakupan dan kualitasnya), dan faktor genetik (keturunan/heriditer/penduduk).

Empat faktor tersebut saling berinteraksi yang mempengaruhi kesehatan perorangan dan derajat kesehatan masyarakat. Derajat kesehatan ditentukan 40% faktor lingkungan, 30% faktor perilaku, 20% faktor pelayanan kesehatan, dan 10% faktor genetika (keturunan). Dengan kata lain, faktor lingkungan yang dalam hal ini seperti menjaga kebersihan lingkungan dan sanitasi harus baik, menjadi faktor penentu tertinggi dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.

Sayangnya, yang terjadi di masyarakat saat ini dalam meningkatkan derajat kesehatan justru lebih tinggi pada pelayanan kesehatan. Artinya, banyak masyarakat yang dilakukan pengobatan atau kuratif di fasilitas kesehatan tapi kebersihan lingkungan kurang diperhatikan.

Hal tersebut disampaikan Prof. Ririh Yudhastuti dalam Seminar Nasional Kimia secara daring yang digelar Himpunan Mahasiswa Kimia (HMK) Jurusan Pendidikan Kimia FMIPA UNY, Sabtu (19/03/2022).

Seminar tersebut diikuti lebih dari 450 orang mahasiswa, dosen, dan pemerhati bidang Kimia. Seminar dibuka Pokja Kemahasiswaan dan Alumni UNY Dr. Pujianto mewakili Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni.

Ketua Panitia Kegiatan Indra Setiawan mengatakan,  seminar ini bertujuan memotivasi mahasiswa dan masyarakat umum agar berpartisipasi aktif meningkatkan mutu kesehatan masyarakat melalui pemanfaatan ilmu Kimia dan pendidikan Kimia untuk mewujudkan Indonesia Sehat. Selain itu, juga memberikan informasi terkait upaya peningkatan sistem imun yang bisa dilakukan kimiawan dan masyarakat umum.

“Utamanya sebagai media pembelajaran mahasiswa Jurusan Pendidikan Kimia FMIPA UNY untuk meningkatkan mutu kesehatan,” tegas Indra.

Sementara itu, Prof. Ririh menambahkan, pada zaman yang semakin maju seperti sekarang ini, cara pandang manusia terhadap kesehatan juga mengalami perubahan.

“Dulu paradigma sakit adalah kesehatan hanya dipandang sebagai upaya menyembuhkan orang yang sakit, di mana terjalin hubungan dokter dengan pasien (dokter dan pasien),” jelas Prof. Ririh.

Sekarang, lanjut Prof. Ririh, konsep yang dipakai adalah paradigma sehat. Upaya kesehatan dipandang sebagai suatu tindakan untuk menjaga dan meningkatkan derajat kesehatan individu ataupun masyarakat.

“Berubahnya paradigma masyarakat akan kesehatan, juga mengubah pemeran dalam pencapaian kesehatan masyarakat, dengan tidak mengesampingkan peran pemerintah dan petugas kesehatan,” tegas Prof. Ririh.

Perubahan paradigma bisa menjadikan masyarakat sebagai pemeran utama dalam pencapaian derajat kesehatan. Dengan perubahan paradigma sakit menjadi paradigma sehat ini membuat masyarakat menjadi mandiri dalam mengusahakan dan menjalankan upaya kesehatannya. Semua itu sesuai visi Indonesia sehat, yaitu “Masyarakat Sehat yang Mandiri dan Berkeadilan”.

Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga ini memaparkan, dalam rangka pencapaian kemandirian kesehatan, pemberdayaan masyarakat merupakan unsur penting yang tidak bisa diabaikan. Pemberdayaan kesehatan di bidang kesehatan merupakan sasaran utama dari promosi kesehatan.

“Masyarakat merupakan salah satu dari strategi global promosi kesehatan pemberdayaan (empowerment) sehingga pemberdayaan masyarakat sangat penting untuk dilakukan agar masyarakat sebagai primary target memiliki kemauan dan kemampuan untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan,” katanya.

Ditambahkan, konsep pemberdayaan masyarakat dalam konteks kesehatan adalah memperdayakan masyarakat sebagai upaya atau proses menumbuhkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan masyarakat mengenali, mengatasi, memelihara, melindungi, dan meningkatkan kesejahteraan mereka sendiri. Pemberdayaan masyarakat bidang kesehatan adalah upaya atau proses menumbuhkan kesadaran kemauan dan kemampuan dalam memelihara dan meningkatkan kesehatan.

Pembicara lain, Prof. Nurfina Aznam menjelaskan, pandemi Covid-19 mengedepankan gaya hidup baru. Yakni, memperhatikan kebersihan, menjaga jarak, menggunakan masker, sering cuci tangan dengan sabun, menggunakan handsanitizer, tidak di ruang tertutup, dan membatasi kerumun. Selain itu, yang diperlukan adalah meningkatkan imunitas diri, yakni dengan mengkonsumsi makanan bergizi dari bahan-bahan yang memiliki senyawa bioaktif yang mempunyai aktivitas sebagai anti virus dan berfungsi sebagai immunomodulator/immune booster dan mengandung vitamin-vitamin dan mineral-mineral yang dibutuhkan oleh tubuh.

“Bahan makanan pokok tersebut, antara lain beras merah, beras hitam, sorgum, ubu jalar, kacang-kacangan, sayur dan buah, juga produk-produk hewani seperti susu dan olahannya, telur dan madu.

Menurut Prof. Nurfina, selain itu ada juga produk-produk makanan dan minuman dari herbal yang sangat bermanfaat sebagai immunomodulator. Meningkatnya sistem imun menyebabkan tidak mudah terjangkit suatu penyakit, dan kalau sakit akan memudahkan pemulihannya.

Guru Besar Jurusan Pendidikan Kimia Fakultas MIPA UNY ini mengungkapkan, banyak sekali tanaman obat asli Indonesia yang bisa difungsikan sebagai anti virus atau immunomodulator. Di antaranya, jahe, kunyit, temulawak, atau secang.

Ia menambahkan, hasil penelitian terbaru menunjukkan secang mengandung senyawa aktif yaitu brazilin, dan komponen lain seperti flavonoid, curcumin, dan galangin memberikan potensi mencegah infeksi dan replikasi virus. Kayu secang yang mengandung senyawa aktif brazilin, dalam bentuk ekstrak kayu secang memiliki potensi yang baik sebagai salah satu kandidat antivirus atau penghambat berkembangnya COVID-19. Senyawa brazilin yang memiliki energi rendah akan berinteraksi secara kuat dengan target protein virus, sehingga mengganggu dan menghambat proses replikasi virus.

Bahkan, peneliti lain telah menemukan ekstrak secang sangat efektif menghambat replikasi Porcine reproductive and respiratory syndrome virus (PRRSV) pada sel MARC-145 yang telah diuji cobakan secara in vitro pada ternak.(****)

2 thoughts on “Prof. Nurfina: Banyak Tanaman Obat Asli Indonesia sebagai Antivirus  

  1. Can I simply say what a comfort to find somebody who genuinely understands
    what they’re talking about over the internet. You certainly realize
    how to bring an issue to light and make it important.
    More and more people really need to check this out and understand this side of the story.
    I can’t believe you aren’t more popular since you certainly have the gift.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *